Skip to main content

Dilema Pariwisata

Berdasarkan pengalaman saat melakukan penelitian di daratan Timor, Rote dan Sumba, penulis mendapati kekayaan potensi wisata NTT justru banyak tersebar di pelosok-pelosok desa. Meskipun begitu, banyak dari keberadaan aset wisata yang nyatanya tak juga memberikan angin segar bagi masyarakat setempat dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Masyarakat lokal justru menjadi bagian dari tontonan dan menjadi penonton dari hadirnya aktivitas pariwisata itu sendiri. Kekhawatiran kemudian muncul ketika pariwisata hanya mendatangkan egoisme turis dan industri kapitalis yang justru mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia NTT pada akhirnya. 

Surga ini siapa yang punya?

Lokasi: Pantai Tunggaoen, Desa Oenggaut, Delha, Rote Barat
Gambar adalah koleksi pribadi


Di lain cerita, salah satu daerah di NTT yang menarik perhatian penulis adalah Rote pulau berpenghuni terujung selatan Indonesia. Kabupaten Rote Ndao sebagai daerah otonom yang baru 15 tahun berdiri sedang berupaya mengejar pertumbuhan dan melepaskan diri dari predikat daerah tertinggal. Sementara itu, potensi wisata alam yang dimiliki kabupaten ini telah berhasil mengundang banyak investasi dan mendorong perkembangan pariwisata internasional di wilayah ini. Investasi asing secara signifikan telah menggerakkan perekonomian daerah, khususnya di wilayah Delha Kecamatan Rote Barat. Pariwisata telah mentransformasikan Delha menjadi wilayah yang cukup berkembang dibandingkan wilayah lainnya di pulau Rote. 

Namun hal yang harus diperhatikan dari berkembangnya pariwisata di Delha adalah implikasinya terhadap penggunaan lahan secara besar-besaran. Fenomena Foreignization of Space telah berkembang di wilayah ini karena banyaknya transaksi kontrak dan jual beli lahan antara warga lokal dengan warga negara asing. Dalam penelitiannya, penulis juga menemukan potensi konflik yang kemungkinan berkembang di kemudian hari dari hilangnya ruang publik bagi masyarakat lokal sebagai akibat dari perkembangan investasi lahan, khususnya yang berdampak pada livelihood masyarakat setempat. 


Sementara itu, keterlibatan masyarakat Delha dalam pariwisata terlihat dari berkembangnya kewirausahaan lokal. Usaha lokal yang berkembang didominasi oleh usaha skala mikro dan kecil sebagai bentuk usaha yang paling mudah dijangkau seperti usaha homestay, usaha rental, kios, dan warung makan. Namun perkembangan kewirausahaan lokal masih berkembang cukup stagnan meskipun pariwisata telah berkembang cukup lama. Hal ini disebabkan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam melihat peluang, selain itu juga keterbatasan modal seperti modal finansial dan modal keterampilan. Sementara itu, pemain luar/asing berdatangan dengan membawa modal besar dan dengan standard kualitas pelayanan yang lebih baik. Hal ini tentunya memunculkan persaingan usaha yang tidak imbang. Usaha lokal yang mampu bertahan dan berkembang adalah mereka yang mampu mengakses informasi kebutuhan wisatawan, mengakses modal finansial, dan mereka yang memiliki akses terhadap jaringan.

Harus diakui menghadirkan pariwisata memang membawa kondisi ‘dilema’. Disatu sisi pariwisata sangat membutuhkan investasi untuk menjadi destinasi yang lebih kompetitif, namun disisi lain membawa investasi asing ke daerah yang SDM nya masih ‘lemah’ justru berpotensi menggerakkan kapitalisme yang cenderung eksploitatif, dan bisa jadi justru menghadirkan persaingan yang mematikan usaha-usaha lokal. 


Berangkat dari kekhawatiran - kekhawatiran itu, maka pembangunan pariwisata perlu berfokus pada pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial yang inklusif. Menguatkan kapasitas masyarakat lokal menjadi sangat penting untuk diupayakan supaya mereka dapat menangkap peluang-peluang ekonomi yang dihadirkan oleh pariwisata. Membangun pariwisata tidak hanya sekedar ‘menjual’ daerah dan menjadikan masyarakat sebagai penonton dan tontonan, atau bahkan justru menggeser ruang mereka. Membangun pariwisata sejatinya adalah membangun manusia supaya lebih sadar wisata, sadar dalam arti: sadar akan lingkungannya; sadar akan asetnya; dan sadar akan peluang ekonomi yang bisa diciptakan yang pada akhirnya mampu mensejahterakan dirinya sendiri. Akhirnya, membangun pariwisata adalah membangun masyarakat yang mampu berinovasi, berinvestasi dan bersaing secara global. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Shifting: Dari Konsumtif ke Produktif

Kuliah Umum Generasi Adaptif Kreatif dan Berdaya di Era Digital di SMAK St. Ignatius Loyola - 9 Desember 2024. Hari ini, saya ingin mengajak kalian merenungkan sebuah realitas yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari: media sosial. Setiap hari, kita bangun tidur, hal pertama yang kita cari bukanlah segelas air atau sapaan pagi kepada keluarga, tetapi ponsel kita. Kita membuka TikTok, Instagram, atau WhatsApp, memeriksa notifikasi, scroll tanpa henti. Tidak terasa, satu jam berlalu. Kemudian dua jam. Apa yang kita dapatkan? Apakah kita merasa lebih pintar, lebih produktif, atau justru merasa lelah dan minder melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih "sempurna"? Realitas Media Sosial Saat Ini Inilah realitas generasi muda hari ini. Media sosial telah menjadi bagian dari hidup kita, bahkan lebih dari sekadar alat komunikasi. Ia telah menjadi tempat kita mencari hiburan, validasi, bahkan identitas. Namun, sadarkah kalian bahwa di balik kenyamanan dan hiburan yang diberik...

Boti Bukan Desa Tertinggal

Primitif adalah hal yang pertama saya dengar tentang suku Boti, alasan utama yang mengantarkan niat saya untuk berkunjung ke Desa Boti di Kab TTS, Nusa Tenggara Timur. Namun apa yang saya temukan tentang Boti mengubah pemikiran saya. Primitif adalah kebudayaan di masyarakat atau individu tertentu yang pada umumnya dicirikan sebagai berikut: (1) belum mengenal budaya luar; (2) jauh dari peradaban; (3) tidak mengenal kesopanan atau tata karma; (4) tergantung dengan alam meskipun dunia luar sudah mengalami modernisasi; (5) berkaitan dengan hal – hal yang kuno. Berawal dari ciri – ciri tersebut, maka saya mencoba memaparkan apa yang saya temui di Boti. Boti tidak tertutup dari dunia luar . Justru boti membuka diri bagi kunjungan wisata dan penelitian. Boti tidak jauh dari peradaban . Peradaban berkaitan dengan kehidupan masyarakat/manusia, yang merujuk pada masyarakat yang kompleks dan dicirikan oleh praktik diantaranya pertanian, hasil karya dan pemukiman. Boti memilik...

Yayasan Alfa Omega: Modal Sosial Bagi Petani NTT

YAO bersama dengan CU (Credit Union) dan CU MART (Costumer Union Mart) akan menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan yang mendukung upaya pengentasan kemiskinan. Konsep segitiga pelayanan yang meliputi aspek peningkatan kapasitas, penyediaan modal, dan penyediaan pasar adalah strategi YAO-GMIT dalam memandirikan masyarakat secara daya dan dana. YAO memahami bahwa masyarakat kecil terkendala berbagai kesulitan jika mereka berusaha sendirian. Untuk itu, YAO hadir sebagai modal sosial yang membantu masyarakat kecil ketika bentuk modal lainnya terbatas dan tidak dapat dijangkau.    Gambar: Staf YAO Kupang mengolah komoditas asam dari Kabupaten Kupang Modal sosial membantu masyarakat kecil untuk mendapatkan aliran informasi, ide, pengetahuan dan keterampilan baru, koneksi dan peluang kerjasama. Skema kerja YAO bergerak melalui berbagai kegiatan yang menghubungkan masyarakat kecil kepada solusi-solusi untuk mengembangkan usaha, seperti pelatihan inovasi ...