Primitif adalah hal yang pertama
saya dengar tentang suku Boti, alasan utama yang mengantarkan niat saya untuk
berkunjung ke Desa Boti di Kab TTS, Nusa Tenggara Timur. Namun apa yang saya temukan tentang Boti mengubah pemikiran
saya.
Primitif adalah kebudayaan di masyarakat
atau individu tertentu yang pada umumnya dicirikan sebagai berikut: (1) belum
mengenal budaya luar; (2) jauh dari peradaban; (3) tidak mengenal kesopanan
atau tata karma; (4) tergantung dengan alam meskipun dunia luar sudah mengalami
modernisasi; (5) berkaitan dengan hal – hal yang kuno.
Berawal dari ciri – ciri
tersebut, maka saya mencoba memaparkan apa yang saya temui di Boti.
- Boti tidak tertutup dari dunia luar. Justru boti membuka diri bagi kunjungan wisata dan penelitian.
- Boti tidak jauh dari peradaban. Peradaban berkaitan dengan kehidupan masyarakat/manusia, yang merujuk pada masyarakat yang kompleks dan dicirikan oleh praktik diantaranya pertanian, hasil karya dan pemukiman. Boti memiliki kekhasan dalam sistem pertanian, hasil karya dan pemukiman, yang tentunya memang berbeda dari masyarakat daerah lain, pulau lain ataupun benua lain.
- Masyarakat Boti sungguh santun dan menjadi tuan rumah yang sangat baik. Tutur bahasa yang terdengar sangat santun, jauh dari nada dan dialek keras. Masyarakat yang murah senyum dan selalu menaruh perhatian kepada setiap pengunjung yang datang.
- Ya, Boti masih tergantung dengan alam, bahkan sangat bersahabat dengan alam. Akan tetapi, Boti tidak anti modernisasi, hanya saja filter budaya Boti sangat bekerja dalam menyeleksi hal – hal diluar budayanya yang masuk. Modernisasi adalah hal yang berbeda dan diluar dari budaya Boti dan dipercaya dapat mengancam lunturnya budaya lokal, jadi wajar jika Boti ingin membentengi dirinya dari Modernisasi.
- Saya tidak setuju jika hal – hal kuno dikaitkan atau disamakan dengan primitif. Hal – hal kuno adalah hal – hal yang lama, berusia dan terjaga, yang lestari, yang diamankan karena ia berharga.
Boti mengajarkan banyak hal ke
saya. Boti sebagai sebuah desa mampu menjadi contoh desa yang swadaya. Boti
hidup dari alam, kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan dapat terpenuhi
dari alam sekitarnya. Para perempuan Boti mampu memproduksi tenun dengan cara
sederhana. Berbahan dasar dari kapas yang banyak tumbuh di sekitar desa boti.
Kapas dipintal menjadi benang dengan cara yang begitu sederhana, dan diberi
pewarna dangan bahan – bahan alami dari warna tumbuhan. Dari sarung, selimut
dan selendang tenun semua diproduksi sendiri oleh para perempuan Boti.
Hal unik lainnya adalah ketika kami diajak menyantap makan siang. Makan siang disajikan diatas piring, sendok dan gelas yang terbuat dari tempurung kelapa. Namun, mereka masih menyediakan piring dan gelas kaca sebagai pilihan. Hal ini dikarenakan mereka merasa sungkan jika para tamu tidak berkenan menyantap hidangan diatas piring dan sendok tempurung kelapa. Kerajinan lain yang mereka produksi sendiri adalah tudung saji, tas, tas khusus sirih pinang, yang terbuat dari anyaman daun lontar dan daun gewang. Tempat menyimpan air yang terbuat dari bambu juga masih dipertahankan hingga kini.
Hal unik lainnya adalah ketika kami diajak menyantap makan siang. Makan siang disajikan diatas piring, sendok dan gelas yang terbuat dari tempurung kelapa. Namun, mereka masih menyediakan piring dan gelas kaca sebagai pilihan. Hal ini dikarenakan mereka merasa sungkan jika para tamu tidak berkenan menyantap hidangan diatas piring dan sendok tempurung kelapa. Kerajinan lain yang mereka produksi sendiri adalah tudung saji, tas, tas khusus sirih pinang, yang terbuat dari anyaman daun lontar dan daun gewang. Tempat menyimpan air yang terbuat dari bambu juga masih dipertahankan hingga kini.
Sistem masyarakat Boti dalam tatanan kerajaan yang secara turun temurun terjaga. Kepercayaan yang dianut
adalah kepercayaan animisme yang disebut Halaika. Ada sebuah cerita tentang
kasus pencurian di Desa Boti. Ketika ada pencuri tertangkap basah, sang raja mengampuni
pencuri tersebut, dan memberikan barang
yang dicuri secara ikhlas. Hal ini terjadi karena masyarakat Boti meyakini
bahwa tindakan pencurian dikarenakan adanya faktor kebutuhan yang kurang dan
harus dipenuhi. Oleh karena itu mereka harus ikhlas memaafkan dan memberikan
apa yang dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan si pencuri tersebut.
Konon, untuk mempertahankan
budaya asli suku Boti tidak ada satu pun warga yang diperbolehkan menempuh
pendidikan di sekolah. Kini, beberapa anak boleh bersekolah, namun dengan
aturan tiap 3 anak 1 diantaranya boleh bersekolah. Alasannya, anak anak yang
tidak disekolahkan disiapkan untuk tetap mempertahankan keaslian budaya dan
anutan kepercayaan Halaika. Sementara yang disekolahkan, menurut saya,
disiapkan untuk menjadi tuan rumah dan interpreter yang baik ketika menyambut
tamu – tamu / wisatawan yang berkunjung ke desa Boti. Karena hanya yang bersekolah
yang bisa berbahasa Indonesia.
Jadi peradaban yang mana lagi
yang kita ragukan dari Boti? Boti adalah desa yang mandiri, yang mampu
menghasilkan sendiri apa yang mereka butuhkan, mampu mendapatkan manfaat ekonomi
dari kunjungan pariwisata. Dan yang lebih hebatnya lagi, Boti memiliki sosial
integritas yang tinggi yang mampu membentengi budaya nya dari sentuhan –
sentuhan luar, namun tetap menjadi masyarakat yang terbuka, santun dan hangat.
Hal ini lah yang perlu dijadikan refleksi bagi masyarakat yang merasa
dirinya modern. Modernitas yang didukung oleh kemajuan teknologi semestinya
membuat manusia menjadi semakin produktif. Namun dewasa ini, justru banyak
orang menjadi semakin konsumtif. Ada hal
yang perlu kita perhatikan sebagai masyarakat modern ketika berkunjung ke
Boti, bahwa suku Boti bukan sebagai tontonan, namun kepada mereka lah kita
datang dan perlu banyak belajar tentang nilai-nilai kehidupan.
Boti adalah Potensi
Jauhnya jarak desa Boti dari desa
lain, dan buruknya kondisi jalan menuju ke Boti, tidak membuat Boti menjadi desa tertinggal seperti anggapan banyak
orang. Saya yakin masyarakat Boti adalah masyarakat yang legowo, yang
secara mental sudah bersahabat dengan alam, bagaimana pun buruk nya alam itu.
Masyarakat Boti tidak pernah dan tidak akan mungkin menuntut pemerintah untuk
memperbaiki akses jalan yang menuju ke desa nya.
Pemerintah semestinya perlu sadar
diri, bahwa pulau Timor memiliki Boti sebagai harta karun. Boti mampu menjadi
magnet pariwisata bagi kab TTS dan juga Kupang sebagai pintu masuknya. Maka
pemerintah perlu memikirkan dan bekerja mewujudkan akses transportasi dan
fasilitas jalan yang baik untuk menuju ke Boti. Jangan melulu mempromosikan
Boti sebagai salah satu Desa Wisata, ditata dulu akses jalan nya untuk
mempermudah akses wisatawan sampai ke DTW (daerah tujuan wisata). Ketika
semuanya sudah tertata dengan rapi dan nyaman, maka kepuasan wisatawan dan promosi pariwisata akan bekerja dengan sendirinya.

Comments
Post a Comment