YAO bersama dengan CU (Credit Union) dan CU MART (Costumer Union Mart) akan menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan yang mendukung upaya pengentasan kemiskinan. Konsep segitiga pelayanan yang meliputi aspek peningkatan kapasitas, penyediaan modal, dan penyediaan pasar adalah strategi YAO-GMIT dalam memandirikan masyarakat secara daya dan dana. YAO memahami bahwa masyarakat kecil terkendala berbagai kesulitan jika mereka berusaha sendirian. Untuk itu, YAO hadir sebagai modal sosial yang membantu masyarakat kecil ketika bentuk modal lainnya terbatas dan tidak dapat dijangkau.
Modal sosial membantu masyarakat kecil untuk mendapatkan aliran informasi, ide, pengetahuan dan keterampilan baru, koneksi dan peluang kerjasama. Skema kerja YAO bergerak melalui berbagai kegiatan yang menghubungkan masyarakat kecil kepada solusi-solusi untuk mengembangkan usaha, seperti pelatihan inovasi produk dan pelatihan pemasaran oleh YAO, kemudian CU membuka akses permodalan terjangkau dengan dilengkapi pelatihan manajemen keuangan, dan CU MART dengan pemasaran kolektif nya. Skema kerja tersebut adalah bentuk komitmen YAO dalam memberikan pelayanan yang holistik dalam mewujudkan kemandirian masyarakat kecil.
Perlu diketahui bahwa modal sosial sangat diperlukan sebagai strategi dan sarana yang penting untuk membantu masyarakat kecil, khususnya bagi para petani. Sebetulnya kemiskinan NTT adalah cerminan dari kemiskinan rumah tangga petani di pedesaan. Pasalnya, naik turunnya angka penduduk miskin di NTT sangat dipengaruhi oleh naik turunnya harga produksi pertanian. Jika harga produksi menurun sementara harga konsumsi terus mengalami peningkatan maka petani akan semakin berkekurangan. Terlebih lagi, pertumbuhan ekonomi NTT masih digerakkan oleh sektor konsumsi sehingga inflasi dan peningkatan harga barang-barang pokok tidak dapat dihindari. Berdasarkan pola tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyebab utama kemiskinan adalah rendahnya output/nilai ekonomi pertanian yang tidak cukup membantu peningkatan kesejahteraan petani. Oleh karenanya, menyelesaikan permasalahan kemiskinan haruslah berangkat dari akarnya, yaitu menyelesaikan permasalahan keterbatasan petani NTT.
Pada umumnya petani NTT adalah masyarakat pedesaan yang terjerat permasalahan multidimensi. Mereka tidak hanya mengalami keterbatasan secara daya dan dana, namun juga memiliki keterbatasan askes dan minim informasi. Petani di pedesaan pada umumnya memiliki keterampilan dan pengetahuan yang rendah sehingga produksi pertanian pun relatif berkualitas rendah. Rendahnya kualitas produksi juga dipengaruhi oleh minimnya peralatan yang dimiliki petani. Keterbatasan alat produksi ini diperparah oleh rumitnya persyaratan dalam mengakses permodalan. Petani di pedesaan biasanya terhalang untuk mengajukan pinjaman karena persyaratan agunan, kepemilikan sertifikat tanah dan slip gaji. Sementara itu, jauhnya jarak pasar, buruknya infrastruktur jalan, dan minimnya transportasi membuat ongkos pemasaran menjadi tinggi dan membuat network pasar mereka menjadi sempit. Petani harus bergantung dengan pengepul yang mendatangi mereka dan menawarkan sistem ijon. Dengan demikian, petani akan terus terikat dengan sistem hutang tanpa memiliki power untuk bernegosiasi harga. Peningkatan output ekonomi dari hasil pertanian pada akhirnya menjadi sulit untuk diwujudkan.
Output ekonomi dari sektor pertanian akan meningkat jika petani dapat mengembangkan usaha tani secara profesional. Profesional berarti petani tidak hanya menghasilkan produksi yang berkualitas, namun juga mampu berinovasi untuk meningkatkan nilai jual. Terlebih lagi jika mereka mampu menguasai teknologi, maka pasar bukan lagi hambatan. Kalau sudah demikian, transformasi petani menjadi pengusaha menjadi mungkin untuk diwujudkan. Hal ini akan mendorong perkembangan sektor informal dalam bentuk usaha-usaha kecil dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berbasis ekonomi kerakyatan. Sektor pertanian tidak akan hanya menjadi nadi utama, namun benar-benar menjadi tulang punggung perekonomian NTT.
Dalam membangun ekonomi kerakyatan, dukungan modal sosial sangat dibutuhkan di tengah kondisi masyarakat NTT yang masih belum cukup memiliki kemampuan untuk menangkap peluang usaha. Akselerasi program bantuan sosial dan jaminan sosial diperlukan untuk pemberdayaan perekonomian petani. Petani harus berada pada lingkungan dan iklim usaha yang mendukung dalam mengakses sumberdaya, ide, dan informasi dalam mengaktualisasikan potensi yang dimiliki. Sudah saatnya pertumbuhan ekonomi NTT digerakkan oleh sektor produksi. Semakin besar peranan sektor produksi, maka tingkat ketergantungan terhadap pasokan barang dan jasa dari luar daerah akan semakin berkurang. Produk-produk pertanian NTT juga akan semakin berdaulat dan menguasai pasar di daerahnya sendiri.
Kemiskinan pada hakekatnya bisa dikurangi bahkan dapat dihapuskan. Kemiskinan dan keterpurukan yang dialami petani NTT antara lain disebabkan oleh kurangnya pendayagunaan potensi manusia dan alam. Pendekatan holistik diperlukan untuk lebih menyentuh akar permasalahan dan dampaknya lebih bersifat jangka panjang. YAO sebagai perpanjangan pelayanan Diakonia Transformatif Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) memiliki misi untuk membantu tercapainya kebutuhan hidup manusia dengan mengoptimalkan sumber daya lokal secara berkesinambungan dan pendekatan holistik. YAO dengan skema kerjanya memiliki posisi strategis dalam membantu upaya penanggulangan kemiskinan dan mewujudkan kedaulatan ekonomi bagi rakyat kecil di NTT.
Comments
Post a Comment