![]() |
Kuliah Umum Generasi Adaptif Kreatif dan Berdaya di Era Digital di SMAK St. Ignatius Loyola - 9 Desember 2024. |
Hari ini, saya ingin mengajak kalian merenungkan sebuah realitas yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari: media sosial. Setiap hari, kita bangun tidur, hal pertama yang kita cari bukanlah segelas air atau sapaan pagi kepada keluarga, tetapi ponsel kita. Kita membuka TikTok, Instagram, atau WhatsApp, memeriksa notifikasi, scroll tanpa henti. Tidak terasa, satu jam berlalu. Kemudian dua jam. Apa yang kita dapatkan? Apakah kita merasa lebih pintar, lebih produktif, atau justru merasa lelah dan minder melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih "sempurna"?
Realitas Media Sosial Saat Ini
Inilah realitas generasi muda hari ini. Media sosial telah menjadi bagian dari hidup kita, bahkan lebih dari sekadar alat komunikasi. Ia telah menjadi tempat kita mencari hiburan, validasi, bahkan identitas. Namun, sadarkah kalian bahwa di balik kenyamanan dan hiburan yang diberikan, media sosial juga menyimpan jebakan yang berbahaya? Jebakan yang membuat kita lebih sering membandingkan diri (Eleuteri et al., 2017), lebih sering menghabiskan waktu tanpa arah (Buckingham, 2007), dan lebih sering menjadi konsumen daripada pencipta (Ogibi, 2015).
Pencipta? Hanya Tuhan saja yang bisa menyandang nama Pencipta.
Memang benar, dalam pandangan teologi, hanya Tuhan yang Maha Pencipta. Namun, manusia diberi hak istimewa untuk menjadi co-creator, mitra Tuhan dalam menjaga dan mengembangkan ciptaan-Nya. Sebagai co-creator, manusia memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik di bumi, sebuah tugas mulia yang membutuhkan kesadaran, kreativitas, dan kontribusi nyata.
Dampak Media Sosial
Coba bayangkan ini. Ada teman kalian yang merasa tidak percaya diri karena melihat influencer dengan gaya hidup mewah. Atau mungkin ada di antara kalian yang lupa mengerjakan tugas sekolah karena terlalu asyik menonton video pendek tanpa henti. Bahkan ada yang merasa hidupnya "kurang" karena tidak bisa mengikuti tren yang sedang viral. Semua ini adalah bukti bagaimana media sosial memengaruhi kita dengan cara yang kadang kita sendiri tidak sadari.
Namun, apakah media sosial sepenuhnya buruk? Tentu saja tidak. Faktanya, media sosial adalah alat yang sangat kuat. Tetapi seperti pisau, alat ini bisa digunakan untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa atau justru melukai diri kita sendiri. Pilihan ada di tangan kita. Apakah kita akan terus menjadi generasi yang konsumtif, hanya menikmati apa yang disediakan tanpa memberikan nilai balik? Atau kita akan bertransformasi menjadi generasi yang produktif, yang menggunakan media sosial sebagai sarana untuk berkarya, berbagi inspirasi, dan menciptakan dampak positif?
Shifting: Transformasi Pola Pikir
Pilihan Ada di Tangan Kita
Ingatlah, generasi yang sukses adalah generasi yang mampu mengendalikan alat, bukan dikendalikan oleh alat. Media sosial hanyalah alat—alat yang sangat kuat—dan bagaimana alat ini digunakan sepenuhnya bergantung pada kita.
Jadilah generasi yang berdaya, generasi yang memanfaatkan teknologi untuk menciptakan, berbagi, dan menginspirasi. Pilihan ada di tangan kalian: apakah kalian ingin menjadi konsumen pasif yang hanya mengonsumsi tanpa arah, atau pencipta aktif yang membawa perubahan positif?
Mari kita bertransformasi menjadi generasi pencipta—yang tidak hanya mengikuti arus, tetapi menciptakan arusnya sendiri. Generasi yang menjadikan media sosial sebagai sarana untuk berkarya, bukan sekadar hiburan. Waktunya untuk mengambil kendali dan memulai sesuatu yang berarti.
Jadi, apa yang akan kalian ciptakan hari ini?
- Eleuteri, S., Saladino, V., & Verrastro, V. (2017). Identity, relationships, sexuality, and risky behaviors of adolescents in the context of social media. Sex Education: Sexuality, Society and Learning, 17(6), 632-645. https://doi.org/10.1080/14681994.2017.1397953
- Buckingham, D. (2007). Youth, identity, and digital media. The MIT Press. https://library.oapen.org/handle/20.500.12657/26085
- Ogibi, J. D. (2015). Social media as a source of self-identity formation: Challenges and opportunities for youth ministry. Stellenbosch University. https://scholar.sun.ac.za/handle/10019.1/97862

Yup, dari pada menjadikan sosial media sebagai sumber hiburan cuma-cuma, aku pribadi prefer menjadikan sosial media sebagai sumber referensi kegiatan positif yang mampu menghibur sekaligus sebagai upaya pengembangan diri.
ReplyDelete