Keberhasilan pariwisata karimunjawa sudah tidak diragukan
lagi. Selain tingkat kunjungan yang selalu meningkat dan infrastruktur yang
semakin baik, pariwisata juga mampu meningkatkan kualitas taraf hidup
masyarakatnya. Terlihat pada kampung yang semakin bersih dan tertata, gaya
hidup masyarakat yang semakin meninggi.
Namun keberhasilan pariwisata karimunjawa tidak terlepas
dari carut-marut permasalahan dalam pengelolaannya. Tumpukan sampah yang tidak
tahu dilarikan kemana, tata guna lahan yang mengalirkan permasalahan, serta
kerusakan karang yang terinjak dan terhempas fin karena aktivitas wisata yang
salah.
Ada hal yang selalu luput dalam pengamatan ketika
pertumbuhan ekonomi semakin meningkat. Adalah ketimpangan. Ketimpangan atau
kesenjangan ekonomi biasanya terjadi jika tidak adanya pemerataan pertumbuhan
ekonomi. Jika yang menikmati pertumbuhan hanya pada segelintir, jika yang
menikmati hanya para kaum elit, jika pertumbuhan ekonomi hanya pada area
tertentu.
Di Karimun, pertumbuhan ekonomi memang tidak segelintir.
Tidak hanya pada kaum elit (investor) semata, namun hampir seluruh lapisan
masyarakat menikmati hasil dari pariwisata. Berbeda dengan Kemujan, pulau yang
terhubung oleh jembatan dengan Karimun. Telah terdengar hampir 60% di sepanjang
bibir pantai Kemujan telah beralih tangan kepada para investor.
Terdapat kekhawatiran jika sepanjang bibir pantai dikuasai
dan diprivatisasi oleh investor, maka hal ini akan berdampak pada berkurangnya akses masyarakat lokal
dalam memanfaatkan aset sumber daya. Tidak dipungkiri pariwisata telah banyak
mengakibatkan masyarakat lokal termarginalisasi dalam merebut peluang usaha dan
dikalahkan oleh investor besar.
Sementara ini mayoritas masyarakat Kemujan masih
menggantungkan hidupnya sebagai nelayan, bahkan banyak yang merantau mengadu
nasib ke daerah lain. Tidak banyak dari mereka yang tinggal di Kemujan bergelut
pada pariwisata. Berbagai kendala seperti jauhnya jarak dari Karimun dan
mahalnya tarif transportasi telah menyurutkan upaya mereka dalam menggerakkan
pariwisata Kemujan.
AKSESIBILITAS BAGI PARIWISATA
Aksesibilitas memiliki peran penting dalam upaya pemerataan.
Aksesibilitas yang diantaranya adalah askes jalan raya, ketersediaan sarana
transportasi dan rambu – ramu penunjuk jalan merupakan aspek penting bagi
sebuah destinasi wisata.
Aksesibilitas tidak hanya sekedar sebagai penghubung.
Seperti di Karimun dan Kemujan, jalan yang mulus dan jembatan tidak hanya
sekedar menghubungkan ke 2 pulau tersebut. Namun dibalik upaya ‘menghubungkan’
terhadap harapan membuka akses kepada semua pihak untuk memiliki kesempatan
yang sama dalam meraih pasar dan memanfaatkan sumber daya pariwisata.
Perlu diperhatikan bahwa akses jalan yang baik saja tidak
cukup tanpa diiringi dengan ketersediaan sarana transportasi. Transportasi umum
sangat penting bagi Individual Tourist karena kebanyakan dari mereka mengatur
perjalanannya sendiri tanpa menggunakan jasa agen wisata. Dari pemenuhan sarana
dan fasilitas publik inilah penyebaran wisatawan dapat merata dan tidak
menumpuk di satu tempat.
Di sisi lain, transportasi juga merupakan aspek penting yang
berdampak pada pertumbuhan pariwisata. Sehingga dapat dikatakan bahwa
pariwisata tidak dapat berkembang tanpa tersedianya sarana transportasi. Dengan
ketersediaan fasilitas transportasi yang cukup, aman dan terjangkau menuju
objek wisata akan dapat memicu peningkatan jumlah wisatawan yang akan
berkunjung.
KEBUTUHAN ANGKUTAN UMUM
Jika transportasi umum sangat berperan terhadap pasar, maka
dalam kasus penyebaran arus wisatawan ke Kemujan yang dirasa masih minim
kemungkinan disebabkan oleh tidak tersedianya fasilitas sarana angkutan umum.
Atau lebih tepatnya, belum ada angkutan umum yang terjangkau. Tarif yang
berlaku untuk transportasi dari Karimun ke Kemujan adalah 350.000 per mobil,
tentunya bukan tarif yang murah jika dilihat dari daya beli masyarakat.
Sementara itu, daya tarik wisata saja tidak cukup jika digadangkan
untuk menjadi faktor pendorong wisata. Tersedianya peta wisata yang menawarkan
berbagai daya tarik wisata tidak cukup untuk mendatangkan wisatawan pada semua
spot – spot yang ditawarkan. Namun juga perlu dalam menawarkan beberapa pilihan
sarana transportasi dengan varian tarif. Khususnya pada tarif transportasi
tidak boleh diabaikan karena akan sangat mempengaruhi calon wisatawan dalam
mengambil keputusan. Penentuan tarif transportasi juga perlu mempertimbangkan
kemampuan daya beli masyarakatnya. Oleh karena itu, eksistensi angkutan umum
yang terjangkau menjadi sangat dibutuhkan.
Dari kebutuhan tersebut, maka pengaturan arus lalu lintas
pariwisata menjadi faktor penting dalam mewujudkan pemerataan pertumbuhan.
Dengan kata lain, angkutan adalah salah satu unsur politik yang penting bagi
berkembangnya industri pariwisata.
Ada beberapa hal lain yang menyebabkan pemerataan arus
wisatawan di Karimunjawa dirasa sangat urgensi. Pertama, karena daya dukung
atau daya tampung pulau karimun yang terbatas. Kedua, menghindari tumpukan
aktivitas wisatawan yang dapat mengurangi tingkat kenyamanan pengunjung.
Ketiga, ancaman-ancaman kerusakan ekosistem karena aktivitas wisata dan tata
guna lahan yang disebabkan oleh pariwisata massal yang menumpuk di Karimun.
Tujuan dari penulisan ini sebenarnya hanyalah untuk
menguatkan peran pentingnya transportasi publik dalam mengurangi kesenjangan
dan dalam mewujudkan kesejahteraan yang menyeluruh. Pemerataan menjadi sangat
penting untuk diwujudkan dengan memberikan kesempatan yang sama bagi semua
pihak dalam meraih manfaat pariwisata. Pembangunan pariwisata harus diatur
sedemikian rupa supaya dapat menghasilkan manfaat sebesar mungkin bagi
masyarakat, bahkan bagi yang paling tidak beruntung sekalipun. Dengan
memberikan kesempatan yang sama kepada setiap individu, hal ini juga akan
mendorong terciptanya ketertiban masyarakat.
Dalam kasus pariwisata Karimunjawa, aksesibilitas merupakan
faktor kunci yang perlu dibenahi dan ditingkatkan untuk memberikan kesempatan
kepada wisatawan menikmati sebanyak-banyaknya obyek dan daya tarik wisata yang
tersedia. Aksesibilitas tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan kapal transportasi
antar pulau, namun juga kebutuhan transportasi darat seperti angkutan umum
antar desa dan berbagai spot tujuan wisata. Untuk itu, aksesibilitas yang baik,
lancar dan menghubungkan antar obyek wisata harus menjadi prioritas pembangunan
pariwisata dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang merata.
Pemerintah semestinya tidak hanya berfokus pada pertumbuhan
ekonomi semata, ketimpangan atau kesenjangan semestinya menjadi perhatian utama
pemerintah saat ini. Kesenjangan dan kemiskinan masih menjadi persoalan
“mengakar” bagi bangsa ini. Keberadaannya mampu menumbuhkan banyak permasalahan
lain, seperti ‘radikalisme’ yang terjadi sekarang ini.
Ditulis untuk Naskah Opini Suara Merdeka cetak dan online 12/6/2017
Ditulis untuk Naskah Opini Suara Merdeka cetak dan online 12/6/2017

Comments
Post a Comment