Saat menyaksikan Pasola dengan
riuh keramaian penontonnya, saya meyakini Pasola adalah kearifan dan kekayaan
yang dimiliki masyarakat Sumba Barat Daya (SBD). Pasola menjadi ikon budaya
sekaligus simbol ‘harapan’ bagi kesejahteraan masyarakat SBD. Pasola adalah
bentuk keaslian budaya yang dimiliki oleh masyarakat adat setempat, yang masih
terjaga, dan mampu mengundang banyak minat wisatawan untuk menyaksikan
keunikannya.
Pada 20 Maret lalu adalah acara
pamungkas dari perhelatan Festival Pasola. Pasola sebagai rangkaian dari
upacara tradisional yang dilakukan masyarakat
SBD, kini telah dipromosikan oleh Pemerintah sebagai festival tahunan dan daya
tarik wisata. Pasola diharapkan menjadi magnet yang menarik minat wisatawan untuk
datang dan berwisata ke SBD. Dan nyatanya, tidak sulit untuk menemukan
wisatawan mancanegara yang turut hadir menyaksikan Pasola.
Photo Source: http://indonesianparadise.net/pasola-festival-tradition-of-the-ritual-customs-of-horse-war-at-sumba/
Ada dua hal yang saya maknai dari
Pasola dan kaitannya dengan pariwisata dalam Festival Pasola. Pertama, Pasola
selain menjadi bentuk pengabdian dan ketaatan kepada leluhur, juga
menggambarkan rasa syukur dan ekspresi kegembiraan masyarakat setempat atas
hasil panen yang melimpah. Begitu pula semestinya pariwisata diharapkan dapat
berdampak positif bagi masyarakat, khususnya kontribusi Festival Pasola dalam mengangkat
perekonomian lokal. Sehingga wujud rasa syukur akan manfaat pariwisata benar –
benar dapat dimanifestasikan dalam Festival Pasola ini.
Kedua, Pasola menjadi perekat
persaudaraan antara dua kelompok yang turut serta dan masyarakat secara umum.
Begitu pula seharusnya pariwisata dapat menciptakan interaksi yang baik dan
bermanfaat. Interaksi yang dimaksud adalah pertemuan antara wisatawan (guest) dengan masyarakat lokal (host) pada Festival Pasola. Yang dimaksud
‘baik’ adalah interaksi pertemuan kultur yang berbeda antara wisatawan dengan masyarakat lokal yang menciptakan
rasa ingin saling mengenal, tanpa merugikan satu sama lain. Yang ‘bermanfaat’
berarti saling menguntungkan satu sama lain. Disatu sisi wisatawan dapat
mengenal keaslian budaya dan menambah wawasan tentang nilai kearifan, disisi
lain masyarakat sebagai tuan rumah dapat menerima manfaat ekonomi dari
kunjungan wisatawan tersebut.
Pasola adalah warisan budaya yang
menjadi aset bagi masyarakat adat setempat. Sudah semestinya keberhasilan
Festival Pasola juga dapat dinikmati oleh mereka. Pasola yang diharapkan dapat
menjadi tonggak kemajuan pariwisata SBD, perlu melihat keberhasilan pariwisata
tidak sekedar dari angka tingkat kunjungan wisatawan atau banyaknya peningkatan
PAD (Pendapatan Asli Daerah). Namun perlu juga melihat sejauh mana pariwisata
dapat menciptakan manfaat langsung bagi masyarakat setempat.
Kenyataannya banyak kunjungan
wisata yang hanya menguntungkan industri pariwisata semata. Wisatawan datang
melalui jasa tour operator atau
perusahaan perjalanan wisata. Kemudian mereka menginap di hotel, dan makan di
restoran milik investor. Wisatawan menyaksikan Pasola dengan didampingi tour guide yang bukan masyarakat lokal.
Dan membeli cinderamata di pusat – pusat souvenir.
Sehingga tidak ada satu rupiah pun yang dibelanjakan di lingkungan desa
tempat Pasola dihelat.
Semestinya perlu dipikirkan
bagaimana transaksi pariwisata ini dapat mengalir ke perekonomian lokal,
seperti homestay (penginapan rumah
penduduk), pemandu wisata lokal, warung makan, toko cinderamata lokal,
transportasi lokal, yang akhirnya juga menggerakkan pasar lokal dalam memenuhi
kebutuhan dasar dari usaha-usaha tersebut. Banyak peluang usaha mikro yang bisa
diciptakan bagi masyarakat lokal dari kunjungan wisatawan ke daerahnya.
Festival Pasola sendiri dapat
dirangkai dengan kegiatan aktivitas wisata lainnya dalam bentuk ‘paket wisata’.
Segala potensi yang ada di desa setempat dapat diangkat menjadi aktivitas
wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan, seperti keindahan pantai,
kehidupan masyarakat desa, makanan tradisional dan cara membuatnya, serta
kesenian tradisional. Terlebih lagi jika pengelolaan Festival Pasola dilakukan
secara partisipatif bersama masyarakat adat, dari proses perencanaan hingga
pelaksanaannya. Upaya ini memberikan dorongan dalam memaksimalkan manfaat
ekonomi dari pariwisata dan peran masyarakat dalam mengelola sumber daya budaya
yang dimilikinya. Inilah interaksi yang diharapkan dari adanya pariwisata, kedatangan
wisatawan dapat menghasilkan atau memberikan nilai tukar yang bermanfaat bagi
tuan rumah.
Memang perlu diakui bahwa upaya
dalam menggerakkan ekonomi lokal memiliki banyak kendala, seperti kesadaran
masyarakat yang masih rendah, standard fasilitas dan pelayanan yang belum layak,
dan kebutuhan modal finansial dalam membuka peluang usaha. Yang dibutuhkan
sekarang adalah upaya penyadartahuan dan pemberdayaan, agar masyarakat memahami
setiap potensi pariwisata yang dimiliki dapat meningkatkan perekonomian mereka.
Sejatinya Pasola adalah milik
masyarakat adat, masyarakat yang cinta pada budayanya. Hadirnya Festival Pasola
semestinya juga memberikan kontribusi yang signifikan dalam memajukan
masyarakat setempat. Hal ini sesuai dengan visi pemberdayaan desa bagi
pembangunan kemandirian desa. Melalui Pasola, perhatian terhadap pembangunan
desa melalui desa adat dapat dicurahkan. Masyarakat desa adalah bagian dari
pembangunan, maka sudah semestinya arah keberhasilan pariwisata juga diarahkan
kepada mereka.
Pemerintah sebagai aktor yang
mempromosikan Festival Pasola juga perlu berperan aktif sebagai fasilitator dan
regulator. Pariwisata berbasis masyarakat (Community-based
Tourism) dapat digunakan sebagai pendekatan dalam mengembangkan Festival
Pasola kedepannya. Dimana keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat adat
setempat menjadi kunci keberhasilan Pasola dalam mengangkat perekonomian lokal.
Masyarakat bukan lagi sebagai penonton dari aktivitas kunjungan wisata, apalagi
menjadi tontonan. Masyarakat adalah pelaku utama dan yang pertama menerima
manfaat dari pariwisata.
Tulisan ini dibuat sebagai kritik
terhadap pariwisata yang kapitalis dan tidak berpihak pada rakyat. Keyakinan
tentang pembangunan pariwisata dengan teori ‘trickle down effect’ nya (teori
distribusi kesejahteraan) perlu semakin dipertanyakan? Kepada siapakah
kesejahteraan dari pariwisata itu diterima? Apakah para investor, para pelaku
usaha, pemerintah dalam bentuk PAD? Bagaimana dengan masyarakat yang memiliki
aset sumber daya pariwisata?
Pariwisata semestinya memberikan
peluang yang sama kepada masyarakat dalam memanfaatkan aset sumber daya. Pariwisata
yang pro-rakyat secara signifikan dapat mendorong ekonomian kerakyatan dan
sekaligus membantu program pengentasan kemiskinan. Pariwisata yang pro-rakyat
adalah pariwisata yang mengurangi kesenjangan. Wisatawan datang untuk melihat
masyarakat yang berbudaya dan berdaya, bukan diperlihatkan wajah kemiskinan.
Pasola sebagai ujung tombak Sumba
Barat Daya dimaknai: bahwa dengan Pasola SBD akan berjaya melalui pariwisata;
dengan Pasola masyarakat akan berdaya dan sejahtera; dengan Festival Pasola
kebudayaan yang dimiliki akan senantiasa lestari dan terus dicari oleh
masyarakat dari belahan dunia lain. Bersama Pasola mari membangun dari desa.
Ditulis untuk kolom OPINI Harian Umum VICTORY NEWS Terbitan 23 Maret 2017 Hal 4

Comments
Post a Comment