Skip to main content

Ekowisata Sebagai Pendidikan Muatan Lokal Karimunjawa



Keindahan alam bawah laut dan pantai telah menjadikan Karimunjawa sebagai destinasi favorit tujuan wisata oleh wisatawan lokal ataupun mancanegara. Pariwisata hadir dan membawa perubahan. Perubahan positif yang dirasakan adalah terjadinya diversifikasi ekonomi, yang sebelumnya sebagai masyarakat nelayan kini beralih ke bisnis pariwisata. Pariwisata mampu mendorong perekonomian lokal menjadi lebih baik. Akan tetapi, perhatian seharusnya tidak hanya tertuju pada sejauh mana perkembangan pariwisata dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakatnya. Namun perlu juga melihat sejauh mana perubahan yang telah ditimbulkan dari upaya komersialisasi keindahan alam tersebut, terhadap ekologi, sosial ataupun budaya setempat. 

Wisata bahari di Karimunjawa selama ini dikomersilkan secara konvensional. Minimnya kesadaran tentang pelestarian lingkungan, yang akhirnya mengakibatkan dampak kerusakan, seperti misalnya kerusakan terumbu karang akibat dari aktivitas wisata. Kini pertanyaannya, kesadaran siapakah yang dituju? Pelaku wisata yang memasarkan, wisatawan yang beraktivitas wisata, atau masyarakat yang memiliki karimunjawa sebagai rumahnya? Kesadaran dan kepedulian tentunya sangat dibutuhkan dari semua pihak. Oleh karena itu, Ekowisata, yang akan kemudian didorong oleh penulis untuk dapat diangkat sebagai solusi.

Mengapa Ekowisata? 

The International Ecotourism Society (TIES) pada awal 1990 merumuskan “Ekowisata adalah kegiatan wisata alam yang bertanggung jawab dengan menjaga keaslian dan kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat”. Perlu ditekankan bahwa di dalam ekowisata terkandung unsur – unsur kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap keaslian dan kelestarian lingkungan serta kesejahteraan masyarakat setempat. 

Karimunjawa sebagai kawasan administratif dimana pariwisata menjadi sektor unggulan, dan disisi lain juga sebagai kawasan konservasi yang berstatus Taman Nasional Laut. Idealnya keseimbangan antara pariwisata dan konservasi bisa diarahkan dalam pengelolaan kawasan. Semestinya pariwisata yang merupakan perwujudan dari prinsip pemanfaatan lestari dapat mendukung upaya konservasi. Karena itu, pemahaman tentang ekowisata dirasa sangat penting diberikan, tidak hanya bagi pelaku wisata dan pegawai BTN Karimunjawa, namun juga kepada seluruh lapisan masyarakat.

Salah satu tujuan ekowisata adalah menjabarkan nilai kearifan lingkungan yang sekaligus mengajak orang untuk menghargai apapun yang walaupun teramat sederhana. Sesederhana pehamanan “kita (manusia) hidup di alam, alam lestari kita pun akan terus hidup”. Pariwisata telah meningkatkan perekonomian masyarakat, disisi lain pariwisata membutuhkan lingkungan yang baik dan sehat. Dengan demikian kepedulian dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan menjadi sangat penting.

Pemahaman ekowisata sebaiknya diberikan sejak usia muda, mulai dari sekolah. Ekowisata dapat diberikan sebagai muatan lokal pendidikan dasar, dari SD, SMP, hingga SMK. Penulis yakin, hal ini akan menjadi langkah proaktif yang sangat efektif. Sekolah sebagai tempat dilaksanakannya program pendidikan merupakan bagian dari masyarakat. Ekowisata sendiri telah mengandung unsur edukasi. Ketika melalui jalur pendidikan, maka pemahaman pentingnya pelestarian dan pengembangan lingkungan dan kepariwisataan dapat diberikan kepada peserta didik untuk memperkaya wawasan tentang daerahnya. 


Muatan Lokal sebagai Ciri Khas dan Potensi Daerah

Muatan Lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Dengan adanya Muatan Lokal, program pendidikan di sekolah diharapkan dapat memberikan wawasan yang luas pada peserta didik tentang kekhususan yang ada di lingkungannya.

Berdasarkan Muatan Lokal, Innovation and Creativity in Curriculum Development (1995) ruang lingkup muatan lokal dirincikan sebagai berikut: (1) Budaya Lokal; (2) Kewirausahaan (Pra-vokasional dan Vokasional); (3) Pendidikan Lingkungan dan Kekhususan Lokal Lain; dan (4) Kecakapan Hidup.

Ekowisata sebagai muatan lokal sudah sangat tepat bagi kebutuhan Karimunjawa karena masuk pada ruang lingkup Pendidikan Lingkungan dan Kekhususan Lokal Lain. Ruang lingkup ini adalah suatu upaya yang sistematis untuk memberikan kesadaran kepada peserta didik agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan berpartisipasi aktif di dalamnya. Ruang lingkup ini diantaranya meliputi:
  • Lingkungan alam sekitar (daur ulang, konservasi alam) 
  •  Isu – isu atau masalah lingkungan
  • Kepedulian, sikap positif, dan partisipasi aktif terhadap lingkungan
  • dll.
Pengenalan dan pengembangan lingkungan melalui pendidikan diarahkan untuk menunjang peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, muatan lokal harus memuat karakteristik budaya lokal, keterampilan, nilai-nilai luhur budaya setempat dan mengangkat permasalahan sosial di lingkungan yang pada akhirnya mampu membekali siswa dengan keterampilan dasar sebagai bekal dalam kehidupan.

Ekowisata yang memuat “sadar wisata” dan “sadar lingkungan” menjadi pengetahuan yang wajib dimiliki dan dikuasai oleh setiap warga Karimunjawa. Menjadikan pariwisata dan konservasi sebagai bagian kehidupan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari atas sampai bawah. Sehingga masyarakat sepenuhnya sadar, bahwa lingkungan yang baik dan terpelihara akan menyejahterakan mereka melalui pariwisata. Hingga timbul dalam benak mereka “inilah sumber rejeki saya dan harus saya pelihara”.

Referensi :

Departemen Pendidikan Nasional, 2007. Model dan Contoh Muatan Lokal Pendidikan Dasar dan Menengah. Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional.

Abdurrachman, Agussalim. 2013. Program Ekowisata Bahari Solusi Pemberdayaan Masyarakat Serta Konservasi Pesisir dan Laut. http://bp3ambon-kkp.org/program-ekowisata-bahari-solusi-pemberdayaan-masyarakat-serta-konservasi-pesisir-dan-laut/

Comments

Popular posts from this blog

Boti Bukan Desa Tertinggal

Primitif adalah hal yang pertama saya dengar tentang suku Boti, alasan utama yang mengantarkan niat saya untuk berkunjung ke Desa Boti di Kab TTS, Nusa Tenggara Timur. Namun apa yang saya temukan tentang Boti mengubah pemikiran saya. Primitif adalah kebudayaan di masyarakat atau individu tertentu yang pada umumnya dicirikan sebagai berikut: (1) belum mengenal budaya luar; (2) jauh dari peradaban; (3) tidak mengenal kesopanan atau tata karma; (4) tergantung dengan alam meskipun dunia luar sudah mengalami modernisasi; (5) berkaitan dengan hal – hal yang kuno. Berawal dari ciri – ciri tersebut, maka saya mencoba memaparkan apa yang saya temui di Boti. Boti tidak tertutup dari dunia luar . Justru boti membuka diri bagi kunjungan wisata dan penelitian. Boti tidak jauh dari peradaban . Peradaban berkaitan dengan kehidupan masyarakat/manusia, yang merujuk pada masyarakat yang kompleks dan dicirikan oleh praktik diantaranya pertanian, hasil karya dan pemukiman. Boti memilik...

Pentingnya Budaya & Kearifan Lokal Untuk Pariwisata Karimunjawa

Pariwisata kini dipandang sebagai satu alternatif pembangunan karena pengembangan kawasan wisata dapat mendukung pelestarian objek wisata, mendorong pelestarian alam, dan transformasi ekonomi menuju ekonomi berbasis jasa (Raharjana, 2010). Begitu pula dengan aktivitas pariwisata di Taman Nasional Laut Karimunjawa yang merupakan bagian dari bentuk pengelolaan Taman Nasional ‘3P’, yaitu Perlindungan, Pangawetan, dan Pemanfaatan Lestari. Perlu diketahui bahwa Pariwisata adalah bentuk penerapan dari Pemanfaatan Lestari yang diharapkan dapat mendukung upaya – upaya perlindungan dan konservasi.   Photo Source: http://www.nasirullahsitam.com/2013/12/merekam-jejak-sejarah-karimunjawa.html Perkembangan menunjukan bahwa kehadiran pariwisata Karimunjawa tidak hanya memberikan dampak positif secara ekonomi, namun juga dampak negatif, baik lingkungan fisik, sosial budaya, dan ekonomi. Dampak negatif pariwisata Karimunjawa yang paling menonjol adalah permasalahan lingkungan, khususnya ...

Pemasaran Pariwisata Karimunjawa dan Kontribusinya

Setelah ditetapkannya Karimunjawa menjadi salah satu destinasi tujuan utama di Jawa Tengah, tentunya upaya pemasaran dan promosi gencar dijalankan dari segala lini. Dinbudpar Provinsi Jawa Tengah mulai mempromosikan Karimunjawa sebagai magnet wisata Jateng seperti Candi Borobudur. Banyak Tour Operator lokal yang kemudian bermunculan dan sangat aktif mempromosikan aktivitas wisata bahari khususnya melalui media internet . Keberhasilan promosi pariwisata ini dibuktikan dengan jumlah wisatawan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Gambar: Materi promosi yang menampilkan foto dengan perilaku wisata yang salah Kenaikan arus kunjungan wisata serta pola aktivitas wisata bahari yang selama ini dijalankan akhirnya berdampak pada kerusakan ekosistem terumbu karang. Hal ini di tunjuk kan dari hasil kajian BTNKJ tahun 2012 yang men erangkan bahwa kerusakan terumbu karang selain diakibatkan oleh faktor alam dan gelombang, juga ditemukan sebagai dampak dari perilaku wisatawan ....