Setelah
ditetapkannya Karimunjawa menjadi salah satu destinasi tujuan utama di Jawa
Tengah, tentunya upaya pemasaran dan promosi gencar dijalankan dari segala
lini. Dinbudpar Provinsi Jawa Tengah mulai mempromosikan Karimunjawa sebagai
magnet wisata Jateng seperti Candi Borobudur. Banyak Tour Operator lokal yang kemudian
bermunculan dan sangat aktif mempromosikan aktivitas wisata bahari khususnya
melalui media internet. Keberhasilan promosi pariwisata ini
dibuktikan dengan jumlah wisatawan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Gambar: Materi promosi yang menampilkan foto dengan perilaku wisata yang salah
Kenaikan
arus kunjungan wisata serta pola aktivitas wisata bahari yang selama ini
dijalankan akhirnya berdampak pada kerusakan ekosistem terumbu karang. Hal ini
ditunjukkan dari hasil kajian BTNKJ tahun 2012 yang menerangkan bahwa
kerusakan terumbu karang selain diakibatkan oleh faktor alam dan gelombang,
juga ditemukan sebagai dampak dari perilaku wisatawan. Pada penemuan kerusakan
karang terbalik, di kedalaman 1 – 2 meter banyak dijumpai adanya fragmentasi
karang karena terinjak atau terkena kibasan fin
waktu berenang. Jadi dapat disimpulkan bahwa kerusakan karang banyak dijumpai
di lokasi yang sering digunakan untuk spot snorkeling.
Melihat
pada permasalahan kerusakan terumbu karang karena tingginya tingkat kunjungan
dan kurangnya pemahaman wisatawan, maka pemasaran perlu diharapkan lagi kontribusinya
dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan. Mengapa pemasaran? Dalam hal ini,
pemasaran sebagai penghubung antara supplier
dan consumer, atau antara destinasi
wisata dengan wisatawan, merupakan fungsi yang berperan dalam mewujudkan
pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Jika keberhasilan pemasaran mampu
mengundang banyak wisatawan datang ke Karimunjawa, maka pemasaran pun mampu
berkontribusi dalam mempromosikan Sustainable
Tourism dan segala upaya - upaya nya. Hal ini juga didukung oleh pendapat Wearing,
Archer dan Beeton (2007), strategi pemasaran kini diakui lembaga pengelolaan
kawasan lindung sebagai dukungan untuk masyarakat luas, perlindungan lingkungan
jangka panjang, dan integritas budaya.
Kontribusi Tour Operator Dalam Pemasaran Pariwisata Berkelanjutan
Tour
operator adalah elemen kunci dalam pariwisata, yaitu sebagai penghubung antara
wisatawan dengan destinasi tujuannya. Tour operator mengombinasikan berbagai
unsur dalam pariwisata untuk dapat dijadikan sebagai produk wisata (tour), mulai dari penanganan
transportasi, akomodasi, itinerary,
pemandu wisata, dan staf pendukung lain yang diperlukan. Dan melalui berbagai
media promosi, tour operator menyampaikan penawaran produknya kepada masyarakat
luas.
Sigala (2008) berpendapat bahwa tour operator memainkan peran penting dalam mengubah sikap dan perilaku ke dalam bentuk pariwisata yang lebih bertanggung jawab, diantaranya dalam: (1) mempengaruhi volume dan arah arus pariwisata; (2) mengintegrasikan dan mempengaruhi sikap serta praktek dari supplier pariwisata dan stakeholders; (3) membentuk destinasi tujuan dan masyarakat lokal. Tour Operator memang sudah semestinya berfokus pada pariwisata berkelanjutan dengan berkomitmen menjadikannya sebagai inti dari kegiatan bisnisnya, melalui beragam aktivitas yang mempromosikan dan menyebarluaskan metode dan praktek – praktek yang kompatibel dengan pembangunan berkelanjutan.
Sigala (2008) berpendapat bahwa tour operator memainkan peran penting dalam mengubah sikap dan perilaku ke dalam bentuk pariwisata yang lebih bertanggung jawab, diantaranya dalam: (1) mempengaruhi volume dan arah arus pariwisata; (2) mengintegrasikan dan mempengaruhi sikap serta praktek dari supplier pariwisata dan stakeholders; (3) membentuk destinasi tujuan dan masyarakat lokal. Tour Operator memang sudah semestinya berfokus pada pariwisata berkelanjutan dengan berkomitmen menjadikannya sebagai inti dari kegiatan bisnisnya, melalui beragam aktivitas yang mempromosikan dan menyebarluaskan metode dan praktek – praktek yang kompatibel dengan pembangunan berkelanjutan.
Berikut
ini adalah hal – hal yang perlu diperhatikan oleh Tour Operator sebagai key player pemasaran:
1. Mempromosikan Do’s & Don’ts
Karimunjawa sebagai destinasi wisata
bahari yang aktivitas utamanya adalah pengamatan terumbu karang, justru tidak
banyak ditemukan regulasi atau panduan 'yang harus dilakukan' dan 'yang tidak boleh
dilakukan' (do’s & don’ts) tentang
etika snorkeling dan diving. Sudah semestinya pesan – pesan seperti: dilarang
menginjak karang dan dilarang memegang karang dapat disampaikan ke wisatawan. Penyampaian
panduan do’s & don’ts sebaiknya
disampaikan sejak pada rencana kedatangan wisatawan ke Karimunjawa. Jadi, ketika tiba mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan dan yang tidak boleh
dilakukan untuk memberikan kontribusi yang baik di destinasi setempat. Panduan do’s & don’ts bisa disampaikan dalam
materi promosi seperti website dan brosur. Belum ada akun website resmi dari tour operator yang menampilkan pesan 'don't step on coral' atau pun pesan 'leave nothing but bubbles, take nothing but photos'. Penyampaian ini sebenarnya sangat sederhana, namun kontribusinya akan menjadi sangat berarti dalam mempengaruhi perilaku wisatawan nantinya.
2. Identifikasi Potensi
Sebenarnya terdapat beberapa aktivitas
wisata yang lain yang dapat ditawarkan kepada wisatawan, diantaranya adalah: tracking mangrove (menelusuri hutan
bakau), trekking, kayaking, camping, wisata religi, wisata budaya mengunjungi
perkampungan Bugis. Dengan mempromosikan potensi - potensi lain yang ada dapat
membantu dalam mendistribusikan arus kunjungan. Selain dapat mengurangi tingkat
kepadatan di spot snorkeling, diangkatnya objek wisata baru juga dapat membantu dalam membuka peluang usaha bagi masyarakat lokal sekitar. Produk yang dipasarkan selama ini sangat monoton, snorkeling ke barat, lalu snorkeling ke timur. Belum banyak tour operator yang berani menawarkan dan mengarahkan aktivitas wisata yang lain. Tour operator semestinya bisa lebih berinovasi dalam menciptakan produk. Inovasi bisa dilakukan dengan menjual pengalaman, dengan menggali aspek lain supaya wisatawan mendapatkan pengalaman yang unik. Dalam berinovasi, bukan tour operator yang mengikuti pasar, namun tour operator yang mendikte selera pasar.
Demonstration
Effect (efek peniruan) yang
terjadi akibat promosi media sosial ternyata juga menyumbang peran pada kerusakan terumbu
karang. Dengan menyebarnya foto – foto wisatawan memegang karang, berdiri
diatas karang, berenang dan berdiri di tengah kolam hiu, semua itu membuat
banyak calon wisatawan ingin melakukan hal yang sama ketika berkunjung ke Karimunjawa. Jadi tanpa disadari perilaku yang salah telah dipromosikan dan berdampak
pada peniruan perilaku yang salah juga. Tour operator perlu memperhatikan
setiap materi promosi yang dimiliki dan yang disebar di media promosi nya. Promosi yang dilakukan harus dapat menyampaikan kondisi riil kawasan, harapan dari kehadiran wisatawan, serta dampak yang dapat ditimbulkan dari kunjungan wisatawan tersebut. Foto - foto promosi seharusnya lebih menampilkan gambaran - gambaran yang lebih estetis (menampilkan keindahan) dan etis (perilaku baik).
4. Wisata Massal pun bisa berkelanjutan
Pariwisata massal yang selama ini dikaitkan sebagai dampak
dari paket wisata murah telah dituding sebagai pemicu dari kerusakan lingkungan
alam. Pariwisata massal memungkinkan untuk dapat berkelanjutan jika
direncanakan dan dikelola dengan tepat. Seperti yang telah dirumuskan oleh
Weaver dan Lawton (1999) bahwa pariwisata massal yang berkelanjutan memiliki
karakter sebagai pariwisata skala besar dengan penggunaan regulasi yang ekstra
ketat. Oleh karena itu, tidak menjadi masalah jika tour operator berburu target group dalam jumlah besar, selama konsisten menerapkan regulasi yang ketat dalam
penyelenggaran wisatanya. Penggunaan regulasi bisa dilakukan dengan memastikan pemilihan Tour Guide dan staf pendukung yang memiliki pengetahuan ekologi yang baik dan yang
mampu menyampaikan pesan - pesan ekologi tersebut. Setidaknya dengan terus mengingatkan pemandu wisata dan operator kapal untuk menghormati aturan berwisata yang baik, sedikit banyak akan membiasakan pola regulasi yang diterapkan, dan dengan sendirinya kesadaran akan dimiliki untuk mengarahkan wisatawan berperilaku sesuai aturan.
Kontribusi Dinas Pariwisata Dalam Pemasaran Karimunjawa
Dinas
pariwisata baik tingkat daerah ataupun provinsi juga memiliki peran penting
dalam pemasaran pariwisata Karimunjawa. Selain menjalankan perannya dalam upaya Good
Governance, Dinas Pariwisata harus mampu mendorong terciptanya Branding
dan memposisikan Karimunjawa sebagai produk wisata alam yang sarat akan
konservasi. Segala materi dan kegiatan promosi yang dilakukan oleh Dinas
Pariwisata seharusnya tidak hanya berfokus pada peningkatan tingkat kunjungan, selain menyampaikan potensi
wisatanya sangat penting juga untuk dapat menyampaikan pesan – pesan ekologinya.
Konservasi bukan hanya tanggung jawab dan ranah BTNKJ saja. Semua pihak dapat berkontribusi dalam mendukung upaya - upaya konservasi, termasuk para pemasar pariwisata Karimunjawa. Pemasaran memiliki tanggung jawab ganda dalam memasarkan produknya, selain memastikan kepuasan wisatawan dengan menyediakan pengalaman berwisata yang berkualitas, pemasaran perlu menjaga keberlangsungan sumber daya dari destinasi setempat.
Konservasi bukan hanya tanggung jawab dan ranah BTNKJ saja. Semua pihak dapat berkontribusi dalam mendukung upaya - upaya konservasi, termasuk para pemasar pariwisata Karimunjawa. Pemasaran memiliki tanggung jawab ganda dalam memasarkan produknya, selain memastikan kepuasan wisatawan dengan menyediakan pengalaman berwisata yang berkualitas, pemasaran perlu menjaga keberlangsungan sumber daya dari destinasi setempat.
Baca selengkapnya dalam:
Ciptosari,
Fitri. 2015. Pemasaran Pariwisata oleh Tour Operator dan Implikasinya Terhadap
Tujuan Konservasi (Studi Kasus: Taman Nasional Karimunjawa). Destinasi
Pariwisata, UKSW. Salatiga

Setuju dengan tulisan anda mbak.
ReplyDelete