Skip to main content

Pentingnya Budaya & Kearifan Lokal Untuk Pariwisata Karimunjawa


Pariwisata kini dipandang sebagai satu alternatif pembangunan karena pengembangan kawasan wisata dapat mendukung pelestarian objek wisata, mendorong pelestarian alam, dan transformasi ekonomi menuju ekonomi berbasis jasa (Raharjana, 2010). Begitu pula dengan aktivitas pariwisata di Taman Nasional Laut Karimunjawa yang merupakan bagian dari bentuk pengelolaan Taman Nasional ‘3P’, yaitu Perlindungan, Pangawetan, dan Pemanfaatan Lestari. Perlu diketahui bahwa Pariwisata adalah bentuk penerapan dari Pemanfaatan Lestari yang diharapkan dapat mendukung upaya – upaya perlindungan dan konservasi.

 Photo Source: http://www.nasirullahsitam.com/2013/12/merekam-jejak-sejarah-karimunjawa.html

Perkembangan menunjukan bahwa kehadiran pariwisata Karimunjawa tidak hanya memberikan dampak positif secara ekonomi, namun juga dampak negatif, baik lingkungan fisik, sosial budaya, dan ekonomi. Dampak negatif pariwisata Karimunjawa yang paling menonjol adalah permasalahan lingkungan, khususnya kerusakan terumbu karang. Eksistensi permasalahan lingkungan di Karimunjawa didukung oleh pernyataan Limbong & Soetomo (2014) bahwa kehadiran pariwisata di Karimunjawa juga membawa dampak negatif terhadap kerusakan ekosistem terumbu karang akibat dari aktivitas wisata yang salah, minimnya pengetahuan wisatawan, dan intensitas kunjungan yang tinggi. Balai Taman Nasional Karimunjawa (BTNKJ) juga telah melakukan kajian dampak pariwisata pada ekosistem terumbu karang pada tahun 2012. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerusakan terumbu karang selain diakibatkan faktor alam dan gelombang, juga ditemukan sebagai dampak dari perilaku wisatawan yang kurang menjaga ekosistem terumbu karang.[1]

Setiap destinasi wisata alami seringkali tidak dapat mempertahankan keasliannya karena mengalami perubahan dari upaya komersialisasi wisata hingga mengakibatkan kerusakan nilai luhur (adiluhung) dan keindahannya (adipeni) (Sutarso, 2009). Begitu juga dengan Karimunjawa, hadirnya pariwisata memang berpotensi pada dampak negatif terhadap lingkungan dan upaya konservasinya, namun demikian bukan berarti bahwa keseimbangan antara pariwisata dan konservasi menjadi hal yang mustahil (Ciptosari, 2015). Kerusakan lingkungan dapat dicegah melalui perhatian terhadap arti pentingnya keberlanjutan dari aktivitas pembangunan. Oleh karena itu, perlu dipikirkan upaya pengembangan pariwisata yang tidak mengubah keaslian obyek wisata dan perilaku manusia didalamnya, dan tentu saja upaya demi tercapainya Sustainable Tourism Development[2].

Kerusakan lingkungan bukan hanya tanggung jawab para aktivis lingkungan dan Pemerintah, melainkan tanggung jawab semua pihak termasuk masyarakat lokal. Oleh sebab itu, diperlukan strategi pendekatan paling efektif untuk dapat menciptakan keterlibatan peran masyarakat lokal. Pendekatan budaya dan kearifan lokal dirasa menjadi yang paling tepat untuk menumbuh kembangkan partisipasi masyarakat tersebut. Hal ini didukung oleh pendapat yang menerangkan bahwa faktor budaya merupakan  salah  satu  faktor  yang  perlu  menjadi pertimbangan  dalam pengembangan ekowisata[3]. Karakteristik  kehidupan masyarakat pesisir biasanya memiliki nilai-nilai tradisi dan kepercayaan yang dapat menunjang upaya pelestarian lingkungan. Masyarakat pesisir juga  biasanya  memiliki seni dan atraksi budaya yang dapat menjadi daya tarik wisatawan (Tuwo, 2011). Hal yang senada juga disampaikan tentang pentingnya budaya dalam mengajak partisipasi aktif masyarakat lokal. Memang kebudayaanlah yang menyebabkan manusia menjadi manusiawi, sebagai makhluk rasional, mampu menilai hal – hal yang kritis dan mempunyai rasa kewajiban moral (Bandem, 1999). 

Berdasarkan pendapat – pendapat yang telah diutarakan, diperlukan suatu kajian tentang budaya dan kearifan lokal yang telah ada dan berkembang di masyarakat Karimunjawa. Kajian ini juga ditujukan sebagai upaya untuk melihat kemungkinan dijadikannya kebudayaan sebagai sarana mengatasi permasalahan lingkungan dan dampak negatif pariwisata lainnya, serta manfaatnya untuk pembangunan daya tarik wisata berbasis budaya. Penulis meyakini Budaya dan Kearifan Lokal ibarat “roh” bijak. Pariwisata tanpa budaya seperti manusia yang kehilangan karakter baiknya. Dengan eksistensi budaya dan kearifan lokal, disatu sisi mampu menumbuhkan nilai – nilai positif kehidupan yang membangun manusia, dan disisi lain budaya dan kearifan lokal dapat diangkat sebagai daya tarik wisata yang lebih estetis dan etis.


[1] Dalam laporan kajian dampak wisata terhadap ekosistem terumbu karang di Taman Nasional Karimunjawa, Balai Taman Nasional Karimunjawa, 2013
[2] Sustainable Tourism Development (STD) merupakan pembangunan kepariwisataan yang tidak hanya  mengejar pertumbuhan investasi perolehan devisa semata, namun lebih menekankan kepada terjaganya kelestarian lingkungan, keberlanjutan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat disekitar destinasi.
[3] Melihat dari penelitian sebelumnya terkait pengembangan obyek wisata Taman Nasional Karimunjawa, disarankan bahwa pengembangan pariwisata yang sangat memungkinkan untuk kawasan ini adalah dengan menjadikannya kawasan ekowisata, dimana kegiatan wisatanya menaruh perhatian yang besar terhadap kelestarian sumber daya pariwisata (Umardiono, 2011)

Comments

Popular posts from this blog

Shifting: Dari Konsumtif ke Produktif

Kuliah Umum Generasi Adaptif Kreatif dan Berdaya di Era Digital di SMAK St. Ignatius Loyola - 9 Desember 2024. Hari ini, saya ingin mengajak kalian merenungkan sebuah realitas yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari: media sosial. Setiap hari, kita bangun tidur, hal pertama yang kita cari bukanlah segelas air atau sapaan pagi kepada keluarga, tetapi ponsel kita. Kita membuka TikTok, Instagram, atau WhatsApp, memeriksa notifikasi, scroll tanpa henti. Tidak terasa, satu jam berlalu. Kemudian dua jam. Apa yang kita dapatkan? Apakah kita merasa lebih pintar, lebih produktif, atau justru merasa lelah dan minder melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih "sempurna"? Realitas Media Sosial Saat Ini Inilah realitas generasi muda hari ini. Media sosial telah menjadi bagian dari hidup kita, bahkan lebih dari sekadar alat komunikasi. Ia telah menjadi tempat kita mencari hiburan, validasi, bahkan identitas. Namun, sadarkah kalian bahwa di balik kenyamanan dan hiburan yang diberik...

Boti Bukan Desa Tertinggal

Primitif adalah hal yang pertama saya dengar tentang suku Boti, alasan utama yang mengantarkan niat saya untuk berkunjung ke Desa Boti di Kab TTS, Nusa Tenggara Timur. Namun apa yang saya temukan tentang Boti mengubah pemikiran saya. Primitif adalah kebudayaan di masyarakat atau individu tertentu yang pada umumnya dicirikan sebagai berikut: (1) belum mengenal budaya luar; (2) jauh dari peradaban; (3) tidak mengenal kesopanan atau tata karma; (4) tergantung dengan alam meskipun dunia luar sudah mengalami modernisasi; (5) berkaitan dengan hal – hal yang kuno. Berawal dari ciri – ciri tersebut, maka saya mencoba memaparkan apa yang saya temui di Boti. Boti tidak tertutup dari dunia luar . Justru boti membuka diri bagi kunjungan wisata dan penelitian. Boti tidak jauh dari peradaban . Peradaban berkaitan dengan kehidupan masyarakat/manusia, yang merujuk pada masyarakat yang kompleks dan dicirikan oleh praktik diantaranya pertanian, hasil karya dan pemukiman. Boti memilik...

Yayasan Alfa Omega: Modal Sosial Bagi Petani NTT

YAO bersama dengan CU (Credit Union) dan CU MART (Costumer Union Mart) akan menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan yang mendukung upaya pengentasan kemiskinan. Konsep segitiga pelayanan yang meliputi aspek peningkatan kapasitas, penyediaan modal, dan penyediaan pasar adalah strategi YAO-GMIT dalam memandirikan masyarakat secara daya dan dana. YAO memahami bahwa masyarakat kecil terkendala berbagai kesulitan jika mereka berusaha sendirian. Untuk itu, YAO hadir sebagai modal sosial yang membantu masyarakat kecil ketika bentuk modal lainnya terbatas dan tidak dapat dijangkau.    Gambar: Staf YAO Kupang mengolah komoditas asam dari Kabupaten Kupang Modal sosial membantu masyarakat kecil untuk mendapatkan aliran informasi, ide, pengetahuan dan keterampilan baru, koneksi dan peluang kerjasama. Skema kerja YAO bergerak melalui berbagai kegiatan yang menghubungkan masyarakat kecil kepada solusi-solusi untuk mengembangkan usaha, seperti pelatihan inovasi ...